Harga jual daun tembakau di Getasan, Kabupaten Semarang merosot tajam akibat anomali cuaca yang terjadi beberapa bulan terakhir. Akibatnya, petani enggan memetik daun tembakau yang siap panen dan membiarkannya membusuk di tanaman.
hampir semua tanaman tembakau di Getasan sudah bisa dipanen. Tanaman tembakau pun sudah memiliki ukuran yang cukup tinggi, yakni sekitar 1 meter lebih. Meski demikian, daun tembakau pada bagian terbawah banyak yang sudah mengering dan membusuk lantaran tidak segera dipanen. Kondisi itu diperparah dengan turunnya hujan abu yang terjadi pada Senin 22 Juli 2013 lalu yang terjadi di sekitar kawasan itu.
Salah satu petani tembakau Sujiono (55) mengaku tidak mau memetik daun tembakaunya karena kecewa harganya anjlok.
''Harga daun tembakau hanya Rp 2.500/ kilogram, tahun lalu bisa sampai Rp 4.000/Kg,'' katanya.
Selain itu, hingga Juli kemarin belum ada tengkulak yang datang untuk membeli daun tembakau milik petani di Getasan. Menurutnya, daun tembakau tidak laku karena anomali cuaca.
Oleh sebab itu, dia enggan untuk memetik tembakau miliknya karena untungnya tidak seberapa. Padahal, usia tanaman tembakau miliknya sudah lebih dari empat bulan, sehingga sudah cukup banyak daun yang telah mengering dan membusuk lantaran tidak dipetik.
Hal yang sama juga disampaikan petani tembakau di Dusun Keditan, Desa Pogalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Sutras (45). Menurut bapak dua anak itu, dengan kondisi cuaca yang tidak menentu ini menyebabkan petani tembakau resah. ''Petani tembakau mengalami kerugian total karena untuk mengembalikan modal saja tidak cukup,'' ujarnya.
hampir semua tanaman tembakau di Getasan sudah bisa dipanen. Tanaman tembakau pun sudah memiliki ukuran yang cukup tinggi, yakni sekitar 1 meter lebih. Meski demikian, daun tembakau pada bagian terbawah banyak yang sudah mengering dan membusuk lantaran tidak segera dipanen. Kondisi itu diperparah dengan turunnya hujan abu yang terjadi pada Senin 22 Juli 2013 lalu yang terjadi di sekitar kawasan itu.
Salah satu petani tembakau Sujiono (55) mengaku tidak mau memetik daun tembakaunya karena kecewa harganya anjlok.
''Harga daun tembakau hanya Rp 2.500/ kilogram, tahun lalu bisa sampai Rp 4.000/Kg,'' katanya.
Selain itu, hingga Juli kemarin belum ada tengkulak yang datang untuk membeli daun tembakau milik petani di Getasan. Menurutnya, daun tembakau tidak laku karena anomali cuaca.
Oleh sebab itu, dia enggan untuk memetik tembakau miliknya karena untungnya tidak seberapa. Padahal, usia tanaman tembakau miliknya sudah lebih dari empat bulan, sehingga sudah cukup banyak daun yang telah mengering dan membusuk lantaran tidak dipetik.
Hal yang sama juga disampaikan petani tembakau di Dusun Keditan, Desa Pogalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Sutras (45). Menurut bapak dua anak itu, dengan kondisi cuaca yang tidak menentu ini menyebabkan petani tembakau resah. ''Petani tembakau mengalami kerugian total karena untuk mengembalikan modal saja tidak cukup,'' ujarnya.
Untuk Pesan Tembakau Hubungi ROBBY Via SMS: 0858 9006 2960
Produksi tembakau di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, tahun ini diperkirakan hanya 10 persen dari total produksi normal per tahunnya sebanyak 29 ribu ton.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pamekasan Ajip Abdullah mengatakan, prediksi ini didasarkan pada luas lahan yang ditanami terbakau tahun ini. "Luas lahan tembakau di Pamekasan itu 31 ribu hektar, tapi yang ditanami tembakau hanya 3 ribu hektar," kata Ajip, Sabtu, 31 Agustus 2013.
Penurunan produksi tersebut, kata dia, disebabkan kemarau basah yang melanda sebagian besar wilayah di indonesia. Ajip berharap penurunan produksi ini bisa mengerek harga terbakau ke level tertinggi, yaitu Rp 50 ribu per kilogram. "Jangan sampai harga merosot, kasihan petani," katanya.
Diluar masalah harga, Ajip mengkhawatirkan tembakau petani tidak laku. Karena sejauh ini, baru PT Sampoerna yang mengkonfirmasi akan melakukan pembelian di Pamekasan. "Perusahaan lain belum jelas, mau beli atau tidak," katanya.
Data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pamekasan menyebutkan 3 ribu hektar lahan yang ditanami tembakau tahun ini mayoritas berada di wilayah utara Pamekasan, seperti Kecamatan Pakong, Batumarmar, dan Pagantenan. Sementara di daerah lain petani beralih menanam melon dan semangka sebagai pengganti tembakau.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pamekasan Ajip Abdullah mengatakan, prediksi ini didasarkan pada luas lahan yang ditanami terbakau tahun ini. "Luas lahan tembakau di Pamekasan itu 31 ribu hektar, tapi yang ditanami tembakau hanya 3 ribu hektar," kata Ajip, Sabtu, 31 Agustus 2013.
Penurunan produksi tersebut, kata dia, disebabkan kemarau basah yang melanda sebagian besar wilayah di indonesia. Ajip berharap penurunan produksi ini bisa mengerek harga terbakau ke level tertinggi, yaitu Rp 50 ribu per kilogram. "Jangan sampai harga merosot, kasihan petani," katanya.
Diluar masalah harga, Ajip mengkhawatirkan tembakau petani tidak laku. Karena sejauh ini, baru PT Sampoerna yang mengkonfirmasi akan melakukan pembelian di Pamekasan. "Perusahaan lain belum jelas, mau beli atau tidak," katanya.
Data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pamekasan menyebutkan 3 ribu hektar lahan yang ditanami tembakau tahun ini mayoritas berada di wilayah utara Pamekasan, seperti Kecamatan Pakong, Batumarmar, dan Pagantenan. Sementara di daerah lain petani beralih menanam melon dan semangka sebagai pengganti tembakau.
Untuk Pesan Tembakau Hubungi ROBBY Via SMS: 0858 9006 2960
Petani Tembakau Ngawi Tak Dapat Bantuan DBHCT.Sejumlah petani tembakau di Desa Legundi, Kecamatan Karangjati Kabupaten Ngawi mengaku belum pernah tersentuh dana bantuan yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT) 2013.
Akibatnya, tanaman para petani, banyak yang terancam gagal panen.
"Puluhan petani di kampung kami, tidak pernah mendapat bantuan maupun dana stimulus dari pemerintah. Semua biaya kami keluarkan sendiri," terang Partono (45) salah seorang petani tembakau warga setempat, Sabtu (31/8/2013).
Hal yang sama disampaikan, petani tembakau lainnya, Slamet (51). Menurutnya, petani selama ini membeli bibit tembakau dengan harga Rp 25.000 sampai Rp 30.000.
Selain itu, pihaknya menjelaskan jika petani saat ini merasa resah akibat perubahan cuaca yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman tembakau.
"Sulit berkembang. Saya nggak tahu ini akan panen apa tidak? Sudah bulan panen, tetapi tanaman kami tak kunjung bisa dipetik. Kemungkinan gagal panen lebih besar," imbuhnya.
Kabid Budidaya Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Ngawi Mujiono mengaku jika DBHCT digunakan untuk sosialisasi ke masyarakat dengan cara menanam tembakau yang baik dan benar.
Selain itu, memberi bantuan pupuk dan bibit tembakau. Namun realitanya masih banyak petani tembakau yang mengaku tidak mendapatkan campur tangan dari pemerintah.
Sementara, luasan lahan perkebunan tembakau Kabupaten Ngawi saat ini mencapai 1.378,25 Hektar.
Tanamannya terdapat tiga varietas yang dikembangkan yaitu Vike, Ram, dan lokal.
Lahan tembakau terluas dan hasil produksi terbesarnya berada di Kecamatan Karangjati dan Kecamatan Bringin.
Produktifitas tembakau rata-rata per tahun mencapai 3.169,36 kilogram per hektar dengan jumlah pekerja, petani, dan buruh tani tembakau mencapau 4.595 orang.
Informasinya, Tahun 2010 lalu, Pemkab Ngawi mendapatkan gerojokan dana DBHCT Rp 7,5 miliar. Sedangkan Tahun 2011 mendapatkan Rp 9,3 miliar.
Sementara Tahun 2012 digelontor Rp 8,7 miliar di bagi 8 SKPD yaitu Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun), Dinas Kesehatan (Dinkes), Rumah Sakit dr Soeroto, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Bagian Perekonomian, Dinas Perdagangan dan Koperasi serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).
Sedangkan pada tahun 2013 ini digerojok DBHCT plus Silpa mencapai Rp 13 miliar.
Akibatnya, tanaman para petani, banyak yang terancam gagal panen.
"Puluhan petani di kampung kami, tidak pernah mendapat bantuan maupun dana stimulus dari pemerintah. Semua biaya kami keluarkan sendiri," terang Partono (45) salah seorang petani tembakau warga setempat, Sabtu (31/8/2013).
Hal yang sama disampaikan, petani tembakau lainnya, Slamet (51). Menurutnya, petani selama ini membeli bibit tembakau dengan harga Rp 25.000 sampai Rp 30.000.
Selain itu, pihaknya menjelaskan jika petani saat ini merasa resah akibat perubahan cuaca yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman tembakau.
"Sulit berkembang. Saya nggak tahu ini akan panen apa tidak? Sudah bulan panen, tetapi tanaman kami tak kunjung bisa dipetik. Kemungkinan gagal panen lebih besar," imbuhnya.
Kabid Budidaya Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Ngawi Mujiono mengaku jika DBHCT digunakan untuk sosialisasi ke masyarakat dengan cara menanam tembakau yang baik dan benar.
Selain itu, memberi bantuan pupuk dan bibit tembakau. Namun realitanya masih banyak petani tembakau yang mengaku tidak mendapatkan campur tangan dari pemerintah.
Sementara, luasan lahan perkebunan tembakau Kabupaten Ngawi saat ini mencapai 1.378,25 Hektar.
Tanamannya terdapat tiga varietas yang dikembangkan yaitu Vike, Ram, dan lokal.
Lahan tembakau terluas dan hasil produksi terbesarnya berada di Kecamatan Karangjati dan Kecamatan Bringin.
Produktifitas tembakau rata-rata per tahun mencapai 3.169,36 kilogram per hektar dengan jumlah pekerja, petani, dan buruh tani tembakau mencapau 4.595 orang.
Informasinya, Tahun 2010 lalu, Pemkab Ngawi mendapatkan gerojokan dana DBHCT Rp 7,5 miliar. Sedangkan Tahun 2011 mendapatkan Rp 9,3 miliar.
Sementara Tahun 2012 digelontor Rp 8,7 miliar di bagi 8 SKPD yaitu Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun), Dinas Kesehatan (Dinkes), Rumah Sakit dr Soeroto, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Bagian Perekonomian, Dinas Perdagangan dan Koperasi serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).
Sedangkan pada tahun 2013 ini digerojok DBHCT plus Silpa mencapai Rp 13 miliar.
Untuk Pesan Tembakau Hubungi ROBBY Via SMS: 0858 9006 2960
Supplier tembakau murah Hubungi segera (SMS) Robby 0858 9006 2960 Gratis sempel tembakau
Setelah diterpa anomali cuaca, sejumlah petani di Manisrenggo mulai memanen dan merajang tembakau, Kamis (29/8/2013). Harga tembakau pun diprediksi lebih baik mengingat jumlahnya tidak sebanyak dengan tahun lalu.
cukup banyak petani yang menjemur tembakau yang sudah dirajang. Mereka menjemur dengan menggunakan alat khusus yang terbuat dari bambu yang diberi nama anjang.
Ketua Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK) Klaten, Aryanta Sigit Suwanta, mengatakan saat ini sudah ada sekitar 40% petani di Manisrenggo yang merajang tembakau. Belum semuanya petani yang merajang tembakau disebabkan faktor anomali cuaca yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, sehingga menyebabkan masa panen raya mundur sekitar satu
“Panen raya belum bisa serentak karena petani menanamnya juga mundur akibat masih sering turun hujan lebat,” jelasnya kepada wartawan di Manisrenggo, Kamis. Meski demikian, dia mengungkapkan kualitas tembakau di Manisrenggo sangat baik dan tidak kalah dengan tahun lalu. Pasalnya, beberapa pekan sebelumnya wilayah Manisrenggo dan sekitarnya tidak diguyur hujan.
Kendati demikian, Sigit yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Solodiran, Manisrenggo itu memperkirakan laba yang dihasilkan dari tembakau tahun ini tidak sebanyak tahun kemarin. Sebab, petani harus mengolah lahan dan menanam dua hingga tiga kali tembakau akibat bibit tanaman banyak yang mati. Hal itu mengakibatkan petani harus merogoh biaya operasional tambahan lagi.
Dibandingkan tahun lalu, luas lahan yang ditanami tembakau di Manisrenggo pada 2013 ini memang mengalami penurunan hingga 20%. Pada 2012, luas lahan yang ditanami tembakau mencapai sekitar 500 Hektar (Ha). Namun pada 2013 hanya 329 Ha yang ditanami tembakau.
“Penurunan itu juga disebabkan faktor anomali cuaca, sehingga petani enggan menanam tembakau dan trauma pada 2010 yang gagal panen,” ungkapnya. Sebagai petani, tahun ini Sigit menanam sekitar 40 Ha tanaman tembakau. Saat ini sebagian tanaman miliknya sudah dipanen dan dirajang.
Dirinya juga mengaku jatuh bangun untuk merawat tanaman miliknya. “Saya juga harus menanam dua hingga tiga kali akibat anomali cuaca,” katanya.
Salah satu petani asal Manisrenggo, Sugeng, mengatakan saat ini dirinya juga sudah merajang tembakau. Sebelumnya, dia mengaku harus beberapa kali melakukan tambal sulam di lahan tembakau seluas 1.700 meter persegi miliknya. Dirinya harus menanam kembali sekitar 350 bibit tembakau akibat mati diguyur air hujan.
“Tambal sulam yang saya lakukan hingga tiga kali, tapi beruntung ini masih bisa panen,” jelasnya kepada solopos.com di lokasi, Kamis. Dia berharap cuaca bisa terus normal supaya tanaman tembakau miliknya bisa tetap hidup hingga panen selanjutnya.
Setelah diterpa anomali cuaca, sejumlah petani di Manisrenggo mulai memanen dan merajang tembakau, Kamis (29/8/2013). Harga tembakau pun diprediksi lebih baik mengingat jumlahnya tidak sebanyak dengan tahun lalu.
cukup banyak petani yang menjemur tembakau yang sudah dirajang. Mereka menjemur dengan menggunakan alat khusus yang terbuat dari bambu yang diberi nama anjang.
Ketua Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK) Klaten, Aryanta Sigit Suwanta, mengatakan saat ini sudah ada sekitar 40% petani di Manisrenggo yang merajang tembakau. Belum semuanya petani yang merajang tembakau disebabkan faktor anomali cuaca yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, sehingga menyebabkan masa panen raya mundur sekitar satu
“Panen raya belum bisa serentak karena petani menanamnya juga mundur akibat masih sering turun hujan lebat,” jelasnya kepada wartawan di Manisrenggo, Kamis. Meski demikian, dia mengungkapkan kualitas tembakau di Manisrenggo sangat baik dan tidak kalah dengan tahun lalu. Pasalnya, beberapa pekan sebelumnya wilayah Manisrenggo dan sekitarnya tidak diguyur hujan.
Kendati demikian, Sigit yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Solodiran, Manisrenggo itu memperkirakan laba yang dihasilkan dari tembakau tahun ini tidak sebanyak tahun kemarin. Sebab, petani harus mengolah lahan dan menanam dua hingga tiga kali tembakau akibat bibit tanaman banyak yang mati. Hal itu mengakibatkan petani harus merogoh biaya operasional tambahan lagi.
Dibandingkan tahun lalu, luas lahan yang ditanami tembakau di Manisrenggo pada 2013 ini memang mengalami penurunan hingga 20%. Pada 2012, luas lahan yang ditanami tembakau mencapai sekitar 500 Hektar (Ha). Namun pada 2013 hanya 329 Ha yang ditanami tembakau.
“Penurunan itu juga disebabkan faktor anomali cuaca, sehingga petani enggan menanam tembakau dan trauma pada 2010 yang gagal panen,” ungkapnya. Sebagai petani, tahun ini Sigit menanam sekitar 40 Ha tanaman tembakau. Saat ini sebagian tanaman miliknya sudah dipanen dan dirajang.
Dirinya juga mengaku jatuh bangun untuk merawat tanaman miliknya. “Saya juga harus menanam dua hingga tiga kali akibat anomali cuaca,” katanya.
Salah satu petani asal Manisrenggo, Sugeng, mengatakan saat ini dirinya juga sudah merajang tembakau. Sebelumnya, dia mengaku harus beberapa kali melakukan tambal sulam di lahan tembakau seluas 1.700 meter persegi miliknya. Dirinya harus menanam kembali sekitar 350 bibit tembakau akibat mati diguyur air hujan.
“Tambal sulam yang saya lakukan hingga tiga kali, tapi beruntung ini masih bisa panen,” jelasnya kepada solopos.com di lokasi, Kamis. Dia berharap cuaca bisa terus normal supaya tanaman tembakau miliknya bisa tetap hidup hingga panen selanjutnya.
Untuk Pesan Tembakau Hubungi ROBBY Via SMS: 0858 9006 2960
Supplier tembakau murah Hubungi segera (SMS) Robby 0858 9006 2960 Gratis sempel tembakau
Selama dua pekan harga tembakau di Kabupaten Temanggung terus merangkak naik. Hingga kemarin penjualan telah mencapai grade C dan D, dengan harga tertinggi Rp 60.000/kg.
"Kalau sampai sekarang pembelian sudah sampai grade C dan D, harganya ya macam-macam tergantung kualitas. Untuk harga tertinggi grade D itu sampai Rp 60.000/kg," kata Cong Giong, dari Perwakilan PT Gudang Garam Temanggung, Kamis (29/8).
Harga tersebut sudah naik dua kali lipat dibanding dua pekan lalu saat awal pembukaan pembelian oleh pabrik. Pada grade A tembakau dihargai Rp 15.000-Rp 35.000/kg. Lalu grade C seminggu sesudahnya berada di harga Rp 35.000-Rp 40.000/kg.
Ditanya perbandingan musim tembakau dengan tahun lalu, Cong Giong, menerangkan, jika berbicara kualitas bagus tahun 2012. Akan tetapi untuk harga lebih bagus tahun 2013.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Temanggung, Ahmad Fuad, memperkirakan, jika tidak terjadi hujan maka harga tembakau petani di grade D bisa di atas Rp 60.00-Rp 70.000/kg.
Selain cuaca naiknya harga juga dipengaruhi oleh kompetisi pembelian tembakau antar pabrikan. Dicontohkan Fuad, apabila PT Gudang Garam bersaing harga maka sudah bisa dipastikan harga tembakau di tingkat petani akan ikut terdongkrak.
Hanya saja dia menyarankan kepada para petani maupun perajin tembakau untuk tidak mencampur tembakau asli Temanggung dengan jenis Kemloko dengan tembakau asal luar daerah.
"Kalau pabrikan itu menghkawatirkan adanya campuran. Sementara ini di Gudang Garam banyak yang tidak diambil. Soalnya, saat disortir diketahui malah lebih banyak campurannya daripada tembakau Temanggungnya," terang Fuad.
Bupati Temanggung Bambang Sukarno, yang kemarin melakukan sidak di gudang tembakau meminta pabrikan bisa membeli semua hasil panen para petani. Dia juga berharap pabrikan yang saat ini belum membeli tembakau seperti Bentoel, Norojono, Wismilak segera melakukan pembelian.
"Saya ingin semua tembakau petani bisa terbeli. Kedua untuk saya minta pabrikan bisa menaikkan harga per totolnya. Ini untuk membantu petani buat tanam tahun 2014 mendatang," tandasnya.
Selama dua pekan harga tembakau di Kabupaten Temanggung terus merangkak naik. Hingga kemarin penjualan telah mencapai grade C dan D, dengan harga tertinggi Rp 60.000/kg.
"Kalau sampai sekarang pembelian sudah sampai grade C dan D, harganya ya macam-macam tergantung kualitas. Untuk harga tertinggi grade D itu sampai Rp 60.000/kg," kata Cong Giong, dari Perwakilan PT Gudang Garam Temanggung, Kamis (29/8).
Harga tersebut sudah naik dua kali lipat dibanding dua pekan lalu saat awal pembukaan pembelian oleh pabrik. Pada grade A tembakau dihargai Rp 15.000-Rp 35.000/kg. Lalu grade C seminggu sesudahnya berada di harga Rp 35.000-Rp 40.000/kg.
Ditanya perbandingan musim tembakau dengan tahun lalu, Cong Giong, menerangkan, jika berbicara kualitas bagus tahun 2012. Akan tetapi untuk harga lebih bagus tahun 2013.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Temanggung, Ahmad Fuad, memperkirakan, jika tidak terjadi hujan maka harga tembakau petani di grade D bisa di atas Rp 60.00-Rp 70.000/kg.
Selain cuaca naiknya harga juga dipengaruhi oleh kompetisi pembelian tembakau antar pabrikan. Dicontohkan Fuad, apabila PT Gudang Garam bersaing harga maka sudah bisa dipastikan harga tembakau di tingkat petani akan ikut terdongkrak.
Hanya saja dia menyarankan kepada para petani maupun perajin tembakau untuk tidak mencampur tembakau asli Temanggung dengan jenis Kemloko dengan tembakau asal luar daerah.
"Kalau pabrikan itu menghkawatirkan adanya campuran. Sementara ini di Gudang Garam banyak yang tidak diambil. Soalnya, saat disortir diketahui malah lebih banyak campurannya daripada tembakau Temanggungnya," terang Fuad.
Bupati Temanggung Bambang Sukarno, yang kemarin melakukan sidak di gudang tembakau meminta pabrikan bisa membeli semua hasil panen para petani. Dia juga berharap pabrikan yang saat ini belum membeli tembakau seperti Bentoel, Norojono, Wismilak segera melakukan pembelian.
"Saya ingin semua tembakau petani bisa terbeli. Kedua untuk saya minta pabrikan bisa menaikkan harga per totolnya. Ini untuk membantu petani buat tanam tahun 2014 mendatang," tandasnya.
Untuk Pesan Tembakau Hubungi ROBBY Via SMS: 0858 9006 2960
Supplier tembakau murah Hubungi segera (SMS) Robby 0858 9006 2960 Gratis sempel tembakau
Memasuki pekan terakhir bulan Agustus 2013, penjualan daun tembakau di tingkat petani di Kabupaten Temanggung terus mengalami peningkatan. Kendati tidak terlalu signifikan, namun hal itu cukup melegakan hati petani.
Mbah Gajul (63), petani tembakau lereng Gunung Sumbing, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, mengaku penjualan daun tembakaunya sedikit semi sedikit sudah mengalami peningkatan. Per kilogram tembakau dihargai Rp 35-Rp 40 ribu.
"Kalau di tempat saya sudah sampai grade C, harganya bervariasi antara Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu. Tapi pembelian baru saja dimulai belum lama. Jadi kemungkinan harga bisa terus naik," katanya Rabu (28/8).
Sebelumnya pembelian untuk tahap awal grade A harga masih di bawah Rp 35 ribu. Harga tembakau per kilogramnya pekan lalu baik di Gudang Garam maupun Djarum bervariatif. Antara Rp 15.000/kg hingga Rp 20.000/kg.
Subakir petani lainnya, optimistis jika cuaca terus bertahan panas dan tidak turun hujan maka masih ada harapan tembakau di ladang membaik. Akan tetapi, jika hujan kualitas akan turun, terlebih musim tahun ini kemarau basah sehingga sejak masa tanam banyak turun hujan.
"Kalau cuaca terus membaik kami yakin srintil tetap akan keluar, untuk Gradenya minimal F. Mudah-mudahan saja cuaca dan hasil baik,"tuturnya.
Sapardi (33), petani asal Ngabean, Kecamatan Ngadirejo, berharap pabrikan membeli tembakau dengan harga wajar. Artinya, menyesuaikan dengan hasil panen yang tidak sebagus tahun sebelumnya.
"Kita minta pabrik membeli dengan harga wajar. Ini bukan kami mau mencari keuntungan besar tapi, sekadar meminimalisir kerugian akibat buruknya cuaca. Ya, supaya ada modal buat tanam lagi musim depan,"cetusnya.
Bupati Bambang Sukarno pun telah mewanti-wanti pihak pabrikan agar membeli semua tembakau milik petani dengan harga layak. Dia berharap ada sinergitas antara petani dan pabrikan dengan kerjasama saling menguntungkan.
Memasuki pekan terakhir bulan Agustus 2013, penjualan daun tembakau di tingkat petani di Kabupaten Temanggung terus mengalami peningkatan. Kendati tidak terlalu signifikan, namun hal itu cukup melegakan hati petani.
Mbah Gajul (63), petani tembakau lereng Gunung Sumbing, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, mengaku penjualan daun tembakaunya sedikit semi sedikit sudah mengalami peningkatan. Per kilogram tembakau dihargai Rp 35-Rp 40 ribu.
"Kalau di tempat saya sudah sampai grade C, harganya bervariasi antara Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu. Tapi pembelian baru saja dimulai belum lama. Jadi kemungkinan harga bisa terus naik," katanya Rabu (28/8).
Sebelumnya pembelian untuk tahap awal grade A harga masih di bawah Rp 35 ribu. Harga tembakau per kilogramnya pekan lalu baik di Gudang Garam maupun Djarum bervariatif. Antara Rp 15.000/kg hingga Rp 20.000/kg.
Subakir petani lainnya, optimistis jika cuaca terus bertahan panas dan tidak turun hujan maka masih ada harapan tembakau di ladang membaik. Akan tetapi, jika hujan kualitas akan turun, terlebih musim tahun ini kemarau basah sehingga sejak masa tanam banyak turun hujan.
"Kalau cuaca terus membaik kami yakin srintil tetap akan keluar, untuk Gradenya minimal F. Mudah-mudahan saja cuaca dan hasil baik,"tuturnya.
Sapardi (33), petani asal Ngabean, Kecamatan Ngadirejo, berharap pabrikan membeli tembakau dengan harga wajar. Artinya, menyesuaikan dengan hasil panen yang tidak sebagus tahun sebelumnya.
"Kita minta pabrik membeli dengan harga wajar. Ini bukan kami mau mencari keuntungan besar tapi, sekadar meminimalisir kerugian akibat buruknya cuaca. Ya, supaya ada modal buat tanam lagi musim depan,"cetusnya.
Bupati Bambang Sukarno pun telah mewanti-wanti pihak pabrikan agar membeli semua tembakau milik petani dengan harga layak. Dia berharap ada sinergitas antara petani dan pabrikan dengan kerjasama saling menguntungkan.
Untuk Pesan Tembakau Hubungi ROBBY Via SMS: 0858 9006 2960
Supplier tembakau murah Hubungi segera (SMS) Robby 0858 9006 2960 Gratis sempel tembakau
Jakarta - Curah hujan tinggi selama musim tanam tembakau (Mei–Juni) membuat tanaman ini tidak tumbuh baik. Masa panen diperkirakan mundur.
Tanaman tembakau tumbuh buruk bahkan mati karena akar tanaman mati jika tergenang air. Beberapa petani memutuskan menanam ulang pada pertengahan Juli dimana curah hujan sudah berkurang, sehingga panen pun mundur jadi akhir September atau awal Oktober.
Ini dilakukan untuk mengurangi kerugian akibat curah hujan. “Akar tembakau akan mati jika empat jam tergenang air,” kata Direktur Gading Mas Indonesian Tobbacco (GMIT), Jahya Lukas, Jumat ( 30/8/2013).
Menurutnya, pada musim kemarau basah tahun 2013 memang berdampak pada kandungan air pada daun. Jika daun masih banyak mengandung air dipaksa panen, hasil akhirnya tidak bagus.
Tanam ulang pada Juli ini membuat musim panen akan mundur jadi Oktober padahal BMKG memperkirakan musim hujan akan datang pada minggu ketiga atau keempat bulan Oktober. Jarak waktu pendek antara panen dan pengeringan dianggap riskan.
Tembakau kasturi atau virginia voor oosgst (VO) sebagai bahan baku sigaret memerlukan sinar matahari untuk pengeringan. “Paling tidak perlu seminggu untuk menjemur daun tembakau, “ kata ketua Indonesian Tobacco Association (ITA), M. Koentjoro. Proses panen daun tembakau
tidak bisa sekaligus, karena ada beberapa langkah pemetikan ketika panen. Total proses pasca panen adalah 10–14 hari.
Jarak waktu yang pendek antara masa petik dan prediksi hujan ini kemungkinan juga akan menurunkan volume panen sampai 30% dibanding tahun lalu.
Untuk Pesan Tembakau Hubungi ROBBY Via SMS: 0858 9006 2960
Supplier tembakau murah Hubungi segera (SMS) Robby 0858 9006 2960 Gratis sempel tembakau
Penerapan ratifikasi kerangka kerja pengendalian tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang diajukan Kementerian Kesehatan guna meningkatkan standar dan kualitas rokok dalam negeri dinilai merugikan industri rokok nasional. Alasannya, ratifikasi tersebut dapat mengancam industri rokok rumahan.
Peneliti dari Indonesia for Global Justice Salamuddin Daeng mengatakan penerapan ratifikasi tersebut tidak berpihak pada kepentingan nasional. Bahkan, disinyalir adanya ratifikasi tersebut karena dorongan kepentingan asing.
"Kampanye tembakau dimanfaatkan untuk mencari keuntungan ekonomi dari sejumlah perusahaan farmasi dunia," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (30/8).
Ia menegaskan sejumlah perusahaan besar yang biasa membiayai proyek anti tembakau seperti Pharmacia & Upjhon, Novartis, Glaxo sangat aktif mendanai WHO melalui proyek prakarsa bebas tembakau.
Selain itu, lanjut Daeng, ratifikasi FCTC cenderung merugikan Indonesia. Pasalnya, ratifikasi memaksa petani tembakau dan pelaku industri kelas menengah untuk melakukan standarisasi produk tembakau. Akibatnya, banyak petani dan pelaku usaha yang gulung tikar.
Bahkan, berimbas pada produksi tembakau lokal yang akan menurun apabila ratifikasi tersebut diterapkan. Kemudian, Indonesia dipaksa untuk impor tembakau dari negara lain.
"Jadi FCTC membahayakan kepentingan ekonomi, industri nasional, dan usaha-usaha yang dikerjakan oleh rakyat," ungkapnya.
Sementara itu, Deputi Direktur Masyarakat Pemangku Kepentingan Kretek Indonesia (MPKKI) Zamhuri mengungkapkan saat ini sebanyak 18 juta masyarakat Indonesia sangat bertumpu pada industri rokok.
"Mulai dari hulu hingga hillir masyarakat bergantung industri ini, jadi kami tidak setuju kalau pemerintah mengaksesi FCTC," tuturnya.
Secara keseluruhan pekerja di sektor industri tembakau menyerap tenaga kerja sekitar 4,1 juta tenaga kerja. Dari jumlah itu, sebanyak 93,77% diserap kegiatan usaha pengolahan tembakau, seperti pabrik rokok. Sedangkan, penyerapan di sektor pertanian tembakau menyerap sekitar 6,23%.
Penerapan ratifikasi kerangka kerja pengendalian tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang diajukan Kementerian Kesehatan guna meningkatkan standar dan kualitas rokok dalam negeri dinilai merugikan industri rokok nasional. Alasannya, ratifikasi tersebut dapat mengancam industri rokok rumahan.
Peneliti dari Indonesia for Global Justice Salamuddin Daeng mengatakan penerapan ratifikasi tersebut tidak berpihak pada kepentingan nasional. Bahkan, disinyalir adanya ratifikasi tersebut karena dorongan kepentingan asing.
"Kampanye tembakau dimanfaatkan untuk mencari keuntungan ekonomi dari sejumlah perusahaan farmasi dunia," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (30/8).
Ia menegaskan sejumlah perusahaan besar yang biasa membiayai proyek anti tembakau seperti Pharmacia & Upjhon, Novartis, Glaxo sangat aktif mendanai WHO melalui proyek prakarsa bebas tembakau.
Selain itu, lanjut Daeng, ratifikasi FCTC cenderung merugikan Indonesia. Pasalnya, ratifikasi memaksa petani tembakau dan pelaku industri kelas menengah untuk melakukan standarisasi produk tembakau. Akibatnya, banyak petani dan pelaku usaha yang gulung tikar.
Bahkan, berimbas pada produksi tembakau lokal yang akan menurun apabila ratifikasi tersebut diterapkan. Kemudian, Indonesia dipaksa untuk impor tembakau dari negara lain.
"Jadi FCTC membahayakan kepentingan ekonomi, industri nasional, dan usaha-usaha yang dikerjakan oleh rakyat," ungkapnya.
Sementara itu, Deputi Direktur Masyarakat Pemangku Kepentingan Kretek Indonesia (MPKKI) Zamhuri mengungkapkan saat ini sebanyak 18 juta masyarakat Indonesia sangat bertumpu pada industri rokok.
"Mulai dari hulu hingga hillir masyarakat bergantung industri ini, jadi kami tidak setuju kalau pemerintah mengaksesi FCTC," tuturnya.
Secara keseluruhan pekerja di sektor industri tembakau menyerap tenaga kerja sekitar 4,1 juta tenaga kerja. Dari jumlah itu, sebanyak 93,77% diserap kegiatan usaha pengolahan tembakau, seperti pabrik rokok. Sedangkan, penyerapan di sektor pertanian tembakau menyerap sekitar 6,23%.
Untuk Pesan Tembakau Hubungi ROBBY Via SMS: 0858 9006 2960
jual tembakau murah untuk pemesanan (SMS) Robby 0858 9006 2960 Tembakau asli indonesia, yang kami ambil langsung dari petani tembakau.silakan hubungi kami segera
kami juga menawarkan tembakau :
jual tembakau murah di surabaya
jual tembakau murah di semarang
jual tembakau murah di jakarta
jual tembakau murah di bandung
jual tembakau murah di kuala lumpur
kami juga menawarkan tembakau :
jual tembakau murah di surabaya
jual tembakau murah di semarang
jual tembakau murah di jakarta
jual tembakau murah di bandung
jual tembakau murah di kuala lumpur
Untuk Pesan Tembakau Hubungi ROBBY Via SMS: 0858 9006 2960
Langganan:
Komentar (Atom)