Harga jual daun tembakau merosot tajam akibat anomali cuaca

Harga jual daun tembakau di Getasan, Kabupaten Semarang merosot tajam akibat anomali cuaca yang terjadi beberapa bulan terakhir. Akibatnya, petani enggan memetik daun tembakau yang siap panen dan membiarkannya membusuk di tanaman.
hampir semua tanaman tembakau di Getasan sudah bisa dipanen. Tanaman tembakau pun sudah memiliki ukuran yang cukup tinggi, yakni sekitar 1 meter lebih. Meski demikian, daun tembakau pada bagian terbawah banyak yang sudah mengering dan membusuk lantaran tidak segera dipanen. Kondisi itu diperparah dengan turunnya hujan abu yang terjadi pada Senin 22 Juli 2013 lalu yang terjadi di sekitar kawasan itu.
Salah satu petani tembakau Sujiono (55) mengaku tidak mau memetik daun tembakaunya karena kecewa harganya anjlok.
''Harga daun tembakau hanya Rp 2.500/ kilogram, tahun lalu bisa sampai Rp 4.000/Kg,'' katanya.
Selain itu, hingga Juli kemarin belum ada tengkulak yang datang untuk membeli daun tembakau milik petani di Getasan. Menurutnya, daun tembakau tidak laku karena anomali cuaca.
Oleh sebab itu, dia enggan untuk memetik tembakau miliknya karena untungnya tidak seberapa. Padahal, usia tanaman tembakau miliknya sudah lebih dari empat bulan, sehingga sudah cukup banyak daun yang telah mengering dan membusuk lantaran tidak dipetik.
Hal yang sama juga disampaikan petani tembakau di Dusun Keditan, Desa Pogalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Sutras (45). Menurut bapak dua anak itu, dengan kondisi cuaca yang tidak menentu ini menyebabkan petani tembakau resah. ''Petani tembakau mengalami kerugian total karena untuk mengembalikan modal saja tidak cukup,''  ujarnya.

Produksi Tembakau Madura Menurun

Produksi tembakau di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, tahun ini diperkirakan hanya 10 persen dari total produksi normal per tahunnya sebanyak 29 ribu ton.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pamekasan Ajip Abdullah mengatakan, prediksi ini didasarkan pada luas lahan yang ditanami terbakau tahun ini. "Luas lahan tembakau di Pamekasan itu 31 ribu hektar, tapi yang ditanami tembakau hanya 3 ribu hektar," kata Ajip, Sabtu, 31 Agustus 2013.

Penurunan produksi tersebut, kata dia, disebabkan kemarau basah yang melanda sebagian besar wilayah di indonesia. Ajip berharap penurunan produksi ini bisa mengerek harga terbakau ke level tertinggi, yaitu Rp 50 ribu per kilogram. "Jangan sampai harga merosot, kasihan petani," katanya.

Diluar masalah harga, Ajip mengkhawatirkan tembakau petani tidak laku. Karena sejauh ini, baru PT Sampoerna yang mengkonfirmasi akan melakukan pembelian di Pamekasan. "Perusahaan lain belum jelas, mau beli atau tidak," katanya.

Data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pamekasan menyebutkan 3 ribu hektar lahan yang ditanami tembakau tahun ini mayoritas berada di wilayah utara Pamekasan, seperti Kecamatan Pakong, Batumarmar, dan Pagantenan. Sementara di daerah lain petani beralih menanam melon dan semangka sebagai pengganti tembakau.

Petani Tembakau Ngawi Tak Dapat Bantuan DBHCT

Petani Tembakau Ngawi Tak Dapat Bantuan DBHCT.Sejumlah petani tembakau di Desa Legundi, Kecamatan Karangjati Kabupaten Ngawi mengaku belum pernah tersentuh dana bantuan yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT) 2013.
Akibatnya, tanaman para petani, banyak yang terancam gagal panen.
"Puluhan petani di kampung kami, tidak pernah mendapat bantuan maupun dana stimulus dari pemerintah. Semua biaya  kami keluarkan sendiri," terang Partono (45) salah seorang petani tembakau warga setempat, Sabtu (31/8/2013).
Hal yang sama disampaikan, petani tembakau lainnya, Slamet (51). Menurutnya, petani selama ini membeli bibit tembakau dengan harga Rp 25.000 sampai Rp 30.000.
Selain itu, pihaknya menjelaskan jika petani saat ini merasa resah akibat perubahan cuaca yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman tembakau.
"Sulit berkembang. Saya nggak tahu ini akan panen apa tidak? Sudah bulan panen,  tetapi tanaman kami tak kunjung bisa dipetik. Kemungkinan gagal panen lebih besar," imbuhnya.
Kabid Budidaya Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Ngawi Mujiono mengaku jika DBHCT digunakan untuk sosialisasi ke masyarakat dengan cara menanam tembakau yang baik dan benar.
Selain itu, memberi bantuan pupuk dan bibit tembakau. Namun realitanya masih banyak petani tembakau yang mengaku tidak mendapatkan campur tangan dari pemerintah.
Sementara, luasan lahan perkebunan tembakau Kabupaten Ngawi saat ini mencapai 1.378,25 Hektar.
Tanamannya terdapat tiga varietas yang dikembangkan yaitu Vike, Ram, dan lokal.
Lahan tembakau terluas dan hasil produksi terbesarnya berada di Kecamatan Karangjati dan Kecamatan Bringin.
Produktifitas tembakau rata-rata per tahun mencapai 3.169,36 kilogram per hektar dengan jumlah pekerja, petani, dan buruh tani tembakau mencapau 4.595 orang.
Informasinya, Tahun 2010 lalu, Pemkab Ngawi mendapatkan gerojokan dana DBHCT Rp 7,5 miliar. Sedangkan Tahun 2011 mendapatkan Rp 9,3 miliar.
Sementara Tahun 2012 digelontor Rp  8,7 miliar di bagi 8 SKPD yaitu Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun), Dinas Kesehatan (Dinkes), Rumah Sakit dr Soeroto, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Bagian Perekonomian, Dinas Perdagangan dan Koperasi serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).
Sedangkan pada tahun 2013 ini digerojok DBHCT plus Silpa mencapai Rp 13 miliar.